Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
ReviewReviewReviewReviewReviewNov 13, '07 10:35 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Mystery & Thrillers
Author:E.S. Ito
Apa-apa yang berbicara tentang keindonesiaan dan tentang sejarahnya barangkali harus menerima, bahwa mereka lebih banyak teronggok di pojok berdebu, jauh dari diperhatikan, apalagi diminati. Terutama dari generasi mudanya (“Sejarah? Nggak rame banget, “ ujar anak muda itu sambil mengunyah french fries, “secara udah jadul gitu…”). Tapi apa jadi salah mereka, jika kenyataannya nyaris tidak ada yang bisa diharapkan dari negara yang nyaris gagal ini?

Untungnya, di antara kegersangan fikir dari sebuah negeri yang gentar untuk berharap, nama E.S. Ito muncul, yang pertama kali berkokok membangunkan lewat novel Negara Kelima. Kali ini novel keduanya, Rahasia Meede, kembali menggedor-gedor pintu besi berkarat yang mengurung rasa keindonesiaan kita, sekali lagi, dengan kisah action-thriller yang membelalakkan mata.

Rahasia Meede berkisah dalam banyak alur, yang nantinya akan berjalin-kelindan menuju klimaks. Barangkali terdengar seperti formula usang kisah tiga babak, namun di tangan peracik yang ahli, resep lama pun akan selalu menyegarkan. Alih-alih menjelentrehkan ringkasan kisahnya, saya rasa lebih tepat bila syaraf-ingin-tahu kita digelitik dari beberapa tanda tanya yang mengusik:

  • Apa gerangan yang membuat Indonesia bisa begitu saja menerima persyaratan untuk menanggung utang perang Belanda di Konferensi Meja Bundar?
  • Ada apa di balik hukuman VOC yang begitu kejam terhadap Pieter Erberveld, orang Indo-Jerman yang dikenal dekat dengan pribumi?
  • Ada apa di balik kebangkrutan VOC?
  • Apa alasan Monas didirikan?
  • Bagaimana intelejen Indonesia bekerja?

Bukan rahasia lagi bahwa sejarah tidak pernah secerah yang ditulis di buku-buku pelajaran. Di dunia yang lebih abu-abu inilah tokoh-tokoh Rahasia Meede akan saling bersilang jalan. Di sebentang kanvas luas yang sebagian telah terlukis dan sebagian masih terselubung debu, bernama Indonesia.

Realisme Indonesia
Dedikasi E.S. Ito telah membuka sebagian selubung kanvas itu, dan sebagai penulis fiksi, ia melukis pula di atasnya. Usaha untuk membuka selubung kanvas menjadikan novel ini sebuah studi sejarah yang luar biasa, dengan riset yang tidak main-main. Dijalin dengan alur kisah yang kuat dan rampat padat, Rahasia Meede tidak pernah kehilangan momen untuk terus mengejutkan, atau setidaknya memaksa pembaca membuka halaman berikutnya.

Yang patut disoroti adalah keberanian untuk mengangkat hal-hal yang menjadi rahasia umum di dunia bawah tanah Indonesia: politikus oportunis, tentara yang berbisnis kotor (termasuk yang berprofesi jadi pembunuh keji) sampai dunia gelap para telik sandhi pasukan khusus. Jika selama ini kita merasa lebih “mengerti” bagaimana Amerika menjalankan dunia prosedural dan intelejen lewat film dan televisi, kali ini kita seperti dibolehkan mengintip dunia serupa yang lebih kelam di Indonesia. Kesemuanya diukir dengan guratan-guratan nan detil yang pastinya dibakari oleh semangat yang menderu-deru dan riset yang jitu. Suatu hal yang masih sangat langka di negeri ini.

Dan Brown dan Frederick Forsyth
Di novel pertamanya, Negara Kelima, tampak jelas bahwa E.S. Ito “berguru” pada Dan Brown untuk menjadikan kisahnya sebagai thriller yang mumpuni. Nampaknya, sebagai penulis yang berkemauan belajar, kali ini ia punya guru baru: Frederick Forsyth. Sebuah perkembangan yang memikat, karena Forsyth yang terkenal lewat The Day of the Jackal dan The Fourth Protocol lebih piawai dalam urusan logika cerita. Dan Brown –ah, siapa yang tidak mengenalnya– memang lihai mengikat pembacanya lewat teknik bab-bab pendek dan ketegangan yang tidak pernah berhenti. Tapi kegemarannya untuk selalu berteka-teki lama-kelamaan terasa mengganggu. Bayangkan saja kalau setiap lapis teka-teki selalu dilindungi lagi dengan teka-teki baru, seolah sang pemilik rahasia adalah penggila teka-teki yang kurang kerjaan. Celakanya, hampir di setiap novelnya sang pemilik rahasia (atau pemegang kunci cerita) memang penggila teka-teki.

Dengan mengikuti jejak Forsyth, E.S. Ito menambah porsi di jalinan cerita yang kuat. Plotnya berliku tapi tidak membuat kita merasa tertipu. Ia mengurangi trik teka-teki sebagai pelapis plot. Dengan cerdas kali ini plot yang saling berkait-kelindan dikupas selapis demi selapis melalui pengkarakteran yang kuat dan permainan adu otak dan adu psikologis. Bahkan –dengan resiko terdengar gegabah– saya berani mengklaim bahwa dalam hal karakterisasi tokoh, Forsyth harus mengaku kalah. Motivasi dan kepribadian kuat yang menyertai tokoh-tokoh Rahasia Meede membuat kita tidak mudah menebak dan berpihak. Ketika tokoh rekaan Forsyth sudah jelas jahat-mulianya, dan kita tinggal menunggu benturan di antara mereka, setiap tokoh Rahasia Meede mempunyai alasan dan kehormatannya sendiri. Area abu-abu inilah yang menjadi poin lebih, menajamkan konflik dan dengan sendirinya menambah dosis ketegangan.

Kerikil Kecil Narasi
Ada akibat sampingan dari energi berlebih E.S. Ito dalam mendongeng. Tidak seperti Andrea Hirata yang menyalurkan keberlebihan energi menjadi narasi yang fantastik semi-surealistik, E.S. Ito menyalurkannya dalam kemarahan mentah. Kegeraman sang pengarang perihal kondisi bangsa sesekali tak tertahankan. Akibatnya narasi jadi nyinyir di beberapa tempat. Sentilan-sentilan yang menyikut ke arah lain, kadang terdengar sarkas dan –apakah perlu?

Mungkin bisa sedikit lega –meskipun agak apologetik– bahwa kenyinyirannya bertolak dari kecintaannya yang besar terhadap bangsa yang nyaris meranggas ini. Memang narasi Rahasia Meede di sana-sini diimbangi (atau ditunggangi?) pompaan rasa nasionalis yang juga memicu adrenalin. Hal yang sah dan seharusnya tidak membuat pembaca jeri, karena toh produk budaya Amerika yang begitu dipuja juga kerapkali tidak sungkan-sungkan untuk mempromosikan kecintaan mereka pada “Impian Amerika”, misalnya. Asal dikemas dengan apik, “propaganda” semacam itu menjadi lebih bisa diterima. Dalam konteks yang agak berbeda, saya teringat Naga Bonar jadi 2. Pesan nasionalisme yang menyelinap di antara dialog dan laku para tokohnya menjadi wajar, terselamatkan oleh kualitas keseluruhan karya yang memang prima.

Gangguan lain terhadap narasi –yang mungkin lebih bersumber pada pribadi pengarangnya– adalah kecenderungan untuk mengobral pengetahuannya yang melimpah. Beberapa fakta tidak langung relevan. Perhatikan saja bahan pelajaran Guru Uban –salah seorang tokoh kunci– yang terlalu luar biasa bagi anak-anak sekelas SMA yang kita tahu mungkin tingkat kepeduliannya nyaris nol. Toh ia terus bercerita dan yakin akan kekuatan dongengannya di depan anak-anak SMA kampung pinggiran Bojonggede itu.

Setidaknya Guru Uban mengenai sasaran tepat di satu hal: dongeng mampu menyihir pemirsanya.

Rahasia Ito
Bagaimanapun, Rahasia Meede tetap sebuah mahakarya. Menyandingkan novel ini dengan nama semacam Dan Brown dan Frederick Forsyth menempatkannya dalam jalur roman pop, spy-thriller yang masih cukup asing di negeri ini. Pecinta sejarah akan meneteskan air liur
Penggemar petualangan seru nan cerdas akan memohon lebih. Penggila dunia mata-mata dan dunia bawah tanah akan mengangguk mengiyakan.

Yang paling penting, semua adrenaline rush ini berhulu dari seorang penulis Indonesia, dengan pena tajam yang menghunjam di mana-mana, dan selalu tepat sasaran. Penulis muda yang juga berselubung rahasia ini telah berhasil mendakukan diri sebagai pendongeng genre-lama-tapi-baru-di-Indonesia yang inspiratif, mencerahkan sekaligus menohok.

Pertanyaan terakhir yang mengusik benak saya: apa lagi yang menghalangi untuk mengapresiasi karya dahsyat ini?

* * *


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
eggophilia wrote on Nov 14, '07
*merem ga mau baca*
manaaa katanya dirimu mau mengirim buku ini untukku *fait accompli mode on* :D
kancalawas wrote on Nov 14, '07
...kamu berputar-putar, aku bingung sendiri...aku jadi capeee duewwh (nada T2..hehe)


*skip dulu ah...
orangketiga wrote on Nov 15, '07
*merem ga mau baca*
ga spoiler kok :)
orangketiga wrote on Nov 15, '07
..kamu berputar-putar, aku bingung sendiri...aku jadi capeee duewwh (nada T2..hehe)
hmm, feedbacknya dong. apanya? apanya? apanya?
izzy04 wrote on Nov 23, '07
Pelit banget, ga ada ringkasan ceritanya sedikit pun. Kirim dong satu ke Papua... Yang 'Negara Kelima' sekalian ya? =)

princesswind wrote on Dec 4, '07
aku baca akhirnya......
dan mbak..beneran...baca tulisannya mas ifan g spoier apapun....
diniabubakar wrote on Dec 6, '07
Review yang keren.. sependapat dengan anda dengan kritik-kritiknya yang emang rada mengganggu terutama rasa jumawa ES Ito itu lho... ya walaupun sah-sah aja sih.. Namanya juga pendongeng.
Eniwei.. salam kenal yaa...
orangketiga wrote on Dec 7, '07
Makasiih. Karena bukunya keren.
shentaruw wrote on Dec 10, '07
saya sudah baca bukunya.. bagus bagus.. layak bacalah.. meski rada datar di tengah, tapi keseluruhannya okew
delaputri wrote on Dec 25, '07, edited on Dec 25, '07
wah..ada yg menunggu buku ini sepertinya om...
aneshusen wrote on Feb 3, '08
E.s. Ito... i love you
nice review, Mas...
oh, ya Allah, semoga E.s Ito bukan agen zionis-freemason-kabbalah-dkk
:) heuheu
3thrie wrote on Feb 13, '08
Wow, review yg menarik :) jd makin penasaran baca. Sempet lihat2 sedikit dikit bukunya di Gramed, menarik banget ... coming soon. segera dibeli ...
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
0 out of 5 stars